SEMARANG — Perkembangan transportasi massal di Kota Semarang membawa tantangan baru bagi angkutan kota konvensional yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari sistem mobilitas masyarakat.
DPRD Kota Semarang meminta pengembangan transportasi massal tidak mengeliminasi keberadaan pengusaha dan pengemudi angkot lokal.
Saat ini Trans Semarang telah mengoperasikan delapan koridor yang menjangkau berbagai wilayah kota.
Transportasi massal memang memberikan manfaat berupa tarif terjangkau, kapasitas lebih besar serta kepastian rute. Namun, pertumbuhan layanan tersebut perlu diikuti desain transisi bagi pelaku angkot.
Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah menjadikan angkot sebagai layanan pengumpan atau feeder bagi koridor utama Trans Semarang.
Dengan pola itu, transportasi massal dan angkot tidak harus bersaing memperebutkan penumpang pada jalur yang sama.
Integrasi tarif dan rute juga dapat memberikan kepastian usaha sekaligus meningkatkan jangkauan transportasi publik hingga permukiman.
Persoalan Semarang mencerminkan tantangan banyak kota besar: modernisasi transportasi harus meningkatkan kualitas pelayanan tanpa menciptakan kelompok pekerja baru yang kehilangan sumber pendapatan.
Keberhasilan transformasi transportasi karena itu sebaiknya diukur tidak hanya dari bertambahnya armada, tetapi juga dari terciptanya jaringan mobilitas yang inklusif.